Busung Lapar, Potret Buram Gizi Masyarakat

 

Pembahasan :

Busung Lapar, Potret Buram Gizi Masyarakat

            Dalam beberapa tahun terakhir,media massa banyakmenyoroti kasus gizi buruk dan busung lapar di beberapa daerah di Indonesia. Tak banyakpara pejabat yang menyangkal data statistik yang diberikan oleh media massa. Busung lapar yang terjadi sekarang merupakan efek dari krisis ekonomi di negara kita yang berkepanjangan yang menyebabkan ketidakmampuan masyarakat untuk membeli bahan makanan yang baik dari segi jumlah dan mutu. Selain itu kurangnya pengetahuan masyarakat tentang makanan yang bergizi merupakan penyebab lain timbulnya busung lapar.  Paling banyak yang terkena busung lapar adalah anak-anak. Dalam buku Busung Lapar[1] diartikan sebagai penyakit busung yang disebabkan kekurangan gizi.dengan kata lain, Busung lapar yang dalam bahasa Belanda disebut honger oedem (HO) itu antara lain dapat terjadi karena masalah ekonomi orang tua yang terimpit kemiskinan[2]. Anak menderita sakit yang tak sembuh-sembuh sehingga susah makan. Sanitasi lingkungan yang buruk dan pemahaman warga terhadap kesehatan kurang. Selain itu, bisa juga disebabkan oleh pola konsumsi yang tidak memperhatikan keseimbangan gizi. Hal itu dapat menimpa siapa saja, tidak mengenal status ekonomi. Anak orang yang berkecukupan pun bila tidak diperhatikan keseimbangan gizinya dapat terkena gizi buruk. Tentang kasus busung lapar di NTB, meskipun surplus padi, sebagian besar penduduknya bekerja sebagai buruh tani.

Busung lapar disebabkan oleh keadaan kurang gizi karena rendahnya konsumsi energi dan protein dalam makanan sehari-hari mereka sehingga tidak memenuhi angka kecukupan gizi (AKG). Keadaan kurang gizi itu biasa disebut dengan kurang energi protein (KEP). Setiap individu tidak akan memiliki metabolisme yang normal apabila kebutuhan kalori (energi)-nya tidak terpenuhi. Sumber energi manusia adalah zat-zat gizi sumber energi seperti hidrat arang, lemak, dan protein. Kekurangan protein juga akan menurunkan imunitas terhadap penyakit infeksi. Sumber protein utama dari makanan adalah daging, ikan, telur, tahu, tempe, susu, dan lain-lain (umumnya lauk-pauk). Karena sistem imunitas tubuh itu sangat bergantung pada tersedianya protein yang cukup maka anak-anak yang mengalami kurang protein mudah terserang infeksi seperti diare, infeksi saluran pernapasan, TBC, polio, dan lain-lain.

Kurang energi protein dapat dikategorikan dalam tiga jenis yaitu ringan, sedang, dan berat. Busung lapar terjadi karena KEP berat atau gizi buruk. Seorang balita dikatakan mengalami KEP berat atau gizi buruk apabila berat badan menurut umur kurang dari 60% baku median WHO-NCHS ( Nutrition Child Health Statistic). Atau berat badan menurut tinggi badan kurang dari 70% baku median WHO-NCHS.

Defisiensi nutrisi mikro yang sering menyertai KEP berat atau gizi buruk adalah xerophthalmia (defisiensi vitamin A), anemia (defisiensi Fe, Cu, vitamin B12, asam folat) dan stomatitis (vitamin B, C). Ada beberapa cara untuk mengetahui seorang anak terkena busung lapar (gizi buruk) yaitu :

  • Pertama, dengan cara menimbang berat badan secara teratur setiap bulan . Bila perbandingan berat badan dengan umurnya dibawah 60% standar WHO-NCHS, maka dapat dikatakan anak tersebut terkena busung lapar (Gizi Buruk).
  • Kedua, dengan mengukur tinggi badan dan LIngkar Lengan Atas (LILA)  bila tidak sesuai dengan standar anak yang normal waspadai akan terjadi gizi buruk.

[3]Tanda-tanda busung lapar (Gizi Buruk) berbeda-beda menurut jenisnya.

Untuk jenis Kwashiorkor tanda-tanda yang terjadi adalah sebagai berikut:

  • Bengkak  pada seluruh tubuh terutama pada punggung kaki dan bila ditekan akan meninggalkan bekas seperti lubang
  • Otot mengecil dan menyebabkan lengan atas kurus sehingga ukuran LILA-nya kurang dari 14 cm
  • Timbulnya ruam berwarna merah muda yang meluas dan berubah warna menjadi coklat kehitaman dan terkelupas
  • Tidak nafsu makan
  • Rambutnya menipis berwarna merah seperti rambut jagung dan mudah dicabut tanpa menimbulkan rasa sakit
  • Wajah anak membulat dan sembab (moon face)
  • Cengeng/rewel dan apatis
  • Sering disertai infeksi, anemia dan diare

Sedangkan untuk jenis Maramus tanda-tandanya :

  • Anak sangat kurus tampak tulang terbungkus kulit.
  • Tulang rusuk menonjol
  • Wajahnya seperti orang tua (monkey face)
  • Kulit keriput (jaringan lemak sangat sedikit sampai tidak ada )
  • Cengeng/rewel
  • Perut cekung sering disertai diare kronik (terus menerus) atau susah buang air kecil

Tanda-tanda Marasmic – Kwashiorkor adalah:

  • Campuran dari beberapa tanda tanda Kwashiorkor dan maramus disertai pembengkakan yang tidak menyolok.

Dampak besar dari kasus busung lapar adalah rendahnya prestasi anak selaku agenperubah bangsa. Kesejahteraan keluarga menurun seiring semakin parahnya penyakit yang diderita. Kemiskinan mungkin salah satu penyebab kasus ini, namun tak selalu kemiskinan menyebabkan kasus gizi buruk.tingkat pemahaman keluarga, khususnya orang tua dalam penyediaan makanan syarat gizi sangat dibutuhkan dalam tumbuh kembang keluarga.

Pengentasan busung lapar dibutuhkan mekanisme dari berbagai cara, diantaranya menurut paradigma ilmu kesejahteraan sosial[4], Ada tiga paradigma kesejahteraan sosial, antara lain : (1) paradigma residual; (2) paradigma institusional; dan (3) paradigma developmental. Paradigma residual adalah pandangan tentang sistem kesejahteraan sosial yang dikembangkan hanyalah sistem terakhir (last resort) untuk membantu anggota masyarakat. Ini adalah sistem kesejahteraan sosial minimalis, di mana sistem ini baru difungsikan ketika sistem pasar (market system) ataupun sistem keluarga (family system) gagal memenuhi kebutuhan individu. Aliran ini sangat menekankan nilai-nilai individualisme dan kemerdekaan individu, sehingga kesenjangan yang terjadi di masyarakat lebih dianggap sebagai konsekuensi logis dari adanya kebebasan individu untuk mendapatkan hasil yang terbaik dalam kehidupannya. Karena bantuan baru diberikan bila sistem pasar dan keluarga tidak bisa membantu anggota masyarakat tersebut, maka dalam sistem kesejahteraan sosial dengan paradigma residual diberlakukan sistem seleksi (means test) untuk menentukan apakah orang tersebut berhak mendapatkan bantuan. Dalam hal ini pemerintah dapat melakukan proses bantuan pemulihan danpenyembuhan dari gizi buruk, misalnya dengan menggratiskan biaya rumah sakit untuk warga miskin yang menderita gizi buruk.

Paradigma institusional atau model kesejahteraan institusional dikembangkan berdasarkan teori tentang masyarakat dan negara yang didasarkan pada nilai-nilai konsensus (consensual value), tetapi konformitas dicapai melalui proses integrasi sosial, bukan sekedar menonjolkan pada aspek pilihan individual saja. Dalam kaitan dengan peran negara dalam penyediaan layanan kesejahteraan pada masyarakatnya, paradigma ini melihat pemerintah harus bekerjasama dengan pihak swasta dan organisasi nirlaba dalam meningkatkan kualitas layanan. Dalam hal ini, pemerintah dapat membuat program khusus penanganan dari ranah institusional, misalnya meningkatkan kampanye datang ke posyandu, mempermurah biaya kesehatan di puskesmas dan rumah sakit, memberi bantuan dan kecukupan gizi masyarakat miskin.

Paradigma developmental, atau model kesejahteraan developmental merupakan konsepsi tentang sistem kesejahteraan sosial yang mendasarkan pada nilai-nilai keadilan sosial. Paradigma ini berdasarkan pada perspektif sosial demokrat (democratic socialist perspective). Disini peran pemerintah menjadi lebih proaktif, dan merupakan antitesis dari perspektif residual yang lebih bersifat reaktif. Dalam ranah developmental, penanganan kasus ini merupakanhal yang berkelanjutan, masyarakat harus disadarkan tentang bahaya gizi buruk, keluarga juga diharapkan mengetahui pola makan sehat dan bergizi, makanan sehat dan berolahraga, meningkatkan sikap antisipasi dan peduli terhadap kesehatan disekitar kita.

Busung lapar merupakan masalah besar dalam peningkatan kesejahteraan keluarga. Kemiskinan membentuk pola tidak sehat terhadap perkembangan anak. Anak-anak rentan mengalami kekurangan gizi untuk tumbuh kembangnya. Dibutuhkan 3 paradigma ilmu kesejahteraan dalam mengatasinya, tak sekedar memberi biaya rumash sakit gratis, namun pemerintah juga dapat memberi bantuan kecukupan gizi kepada masyarakat miskin. Sikap masyarakat juga diharapkan dapat berperan aktif dan peduli pada kondisi kesehatan sekitarnya.

Daftar Pustaka

Adi, Isbandi Rukminto. 2005. “Ilmu Kesejahteraan Sosial dan Pekerjaan Sosial,

pengantar pada pengertian dan beberapa pokok bahasan”. Edisi revisi

2005. Jakarta : FISIP-UI Press.

Aritonang Irianton, Priharsiwi Endah. 2006. Busung Lapar.  Yogyakarta

: Media Pessindo

http://www.promosikesehatan.com/?act=download&id=190&f=636f642e626577206b74755f726170616c20676e75737542&type=articles (27 Oktober 2011,pukul 04.02 WIB)

http://www.suaramerdeka.com/harian/0506/12/nas05.htm (27 Oktober 2011,pukul 03.57 WIB)


[1] Aritonang Irianton, Priharsiwi Endah. 2006. Busung Lapar.  Yogyakarta : Media Pessindo

[4][4] Adi, Isbandi Rukminto. 2005. “Ilmu Kesejahteraan Sosial dan Pekerjaan Sosial,

pengantar pada pengertian dan beberapa pokok bahasan”. Edisi revisi

2005. Jakarta : FISIP-UI Press.

 

Artikel:

Busung Lapar Ditemukan di Jakarta Timur

TEMPO Interaktif, Jakarta:  Kasus busung lapar terjadi di Jakarta Timur. Eka Pratiwi 4 tahun, seorang balita yatim piatu, warga RT 06/07 Kelurahan Tengah, Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur, terkena penyakit busung lapar.

Menurut paman Eka, Jalileng 49 tahun, Senin (25/5) pukul 15.00 oleh puskesmas setempat. Kondisi Eka, kata Jalileng, badannya kurus tapi perut dan kepalanya membesar. “Makannya biasa, malah lahap,” kata dia. Jalileng menyatakan keponakannya sudah dua bulan kondisi seperti itu. Eka, kata Jalileng, menjadi yatim piatu setahun lalu. Kini dia ikut Jalileng. Naasnya, Jalileng kini sedang menganggur. “Istri saya juga menganggur,” kata dia.

Kasus ini diketahui, Sabtu (23/5) malam, Eka diantar pamannya Erwan, 13 tahun ke dokter Arya, yang praktik di Jalan Kesehatan RT 5/11 Kelurahan Gedong, Kecamatan Pasar Rebo, Jakarta Timur. Reko Busono, Ketua Dewan Kelurahan Gedong yang pertama kali melihat anak balita yang menyandang penyakit busung lapar. “Secara fisik, Eka sangat kurus dan tidak terlihat berumur empat tahun,” ungkap Reko ketika dihubungi wartawan.

Dalam laporan dokter, kata Reko,Eka menyandang penyakit TBC. Reko pun akhirnya memberikan kartu nama dan nomor kontaknya kepada kedua orang yang mengantar Eka. “Kalau butuh bantuan, tolong hubungi saya,” pesan Reko kepada kedua orang itu. Namun kedua pamannya tak menghubungi. Jalileng mengaku, Erwan yang lebih tahu jalan ke dokter itu, sehingga bukan dia yang mengantar.

Sementara itu, Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur, Paripurna Harimuda Sediyono, menyatakan Eka sudah dibawa ke RS Pasar Rebo. “Gratis, biayanya ditanggung pemerintah,” kata dia. Kini, Eka dirawat di RS Pasar Rebo.

Penulis : NUR ROCHMI

Tanggal Terbit : Senin, 25 Mei 2009 | 17:32 WIB

Sumber :

http://www.tempointeraktif.com/hg/jakarta/2009/05/25/brk,20090525-178025,id.html ( 26 Oktober 2011, Pukul 23.54 WIB)

 

 

Nama               : Wahyu Ramdhan Wijanarko

NPM               : 1006694271

Mata Kuliah    : Masalah Kemiskinan

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s