HADIRILAH MILAD PKS KE-13, AHAD17 APRIL 2011

PUTIHKAN INDONESIA

Isu-isu negatif tentang PKS terus-menerus bermunculan Dari mulai kasus century, poligami, isu korupsi DPP dan yang terbaru pornografi Tapi, Hal itu tidak melemahkan kami….. Justru kami merapatkan barisn…. Menguatkan diri. Karena kami adalah KADER PKS Ini bukan taklid, bukan cuma membabi buta. tapi ini adalah sikap kami……

Aku Menangis 6 Kali untuk Adikku

Aku Menangis 6 Kali untuk Adikku

Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning,  dan punggung mereka menghadap ke langit.  Aku mempunyai seorang adik, tiga  tahun lebih muda  dariku.

Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, Aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku.  Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat  adikku dan aku berlutut di depan tembok,  dengan sebuah tongkat bambu di tangannya.  “Siapa yang mencuri uang itu?” Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi  Beliau mengatakan, “Baiklah, kalau begitu, kalian  berdua layak dipukul!”  Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi.  Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan  berkata, “Ayah, aku yang melakukannya!”

Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas. Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi, “Kamu sudah belajar mencuri dari rumah  sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? … Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!”

Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis
meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, “Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi.”

Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki  cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku  berusia 8 tahun. Aku berusia 11. Continue reading