Rakyat miskin objek kampanye

Rakyat miskin objek kampanye

 

Dalam pemilihan umum, partisipasi politik melalui sokongan suara masyarakat miskin menjadi hal yang signifikan untuk memenangkan para elite politik menuju kursi kekuasaan. Rakat miskin mudah digiring untuk berkampanye, bukan karena paham tentang politik atas kesadaran pribadi, namun karena untuk mendapat keuntungan langsung, berupa uang, makanan, dan kebanggaan. Dr. Musni Umar menjelaskan bahwa partisipasi politik dikalangan pengayuh becak dikatakan meriah,hal ini disebabkan antara lain:

  • Mereka memiliki banyak waktu, keikutsertaan mereka dalam kampanye, bukan karena pengayuh becak mempunyai budaya politik untuk mengamalkan demokrasi, tetapi mereka mengharap bantuan uang.
  • Berkampanye dianggap sebagai kebanggaan, terutamakarena bertemu dengan tokoh politik yang selama ini hanya dilihat di televisi
  • Kampanye merupakan ajang hiburan, karena hampir disetiap kampanye disuguhkan hiburan musik yang setidaknya dapat sejenak melupakan kepenatan hidup.
  • Mendapat pakaian, makanan dan dianggap sebagai manusia yang diperlukan. Continue reading

Nilai Pekerja Sosial

Nama               : Wahyu Ramdhan Wijanarko

NPM               : 1006694271

Mata Kuliah    : Filsafat dan Etika Manusia

 

  1. 1.      Service to Humanity (Enable people to develop their potential)

 

Pengungsi Banjir Lahar Ikuti Pelatihan Keterampilan

 

 

ANTARA – Para korban bencana banjir lahar dingin Gunung Merapi di tempat pengungsian akhir Tanjung, Kabupaten Magelang, terutama kaum perempuan mendapat pelatihan keterampilan dari tim Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Provinsi Jawa Tengah.

Ketua Penggerak PKK Provinsi Jawa Tengah, Sri Suharti di Magelang, Rabu mengatakan, di lokasi pengungsian perlu kegiatan yang dapat memberdayakan para perempuan, terutama kegiatan yang bisa meningkatkan pengetahuan dan pengalaman. “Selain itu, bisa pula meningkatkan pendapatan dan membuka peluang usaha,” katanya. Continue reading

Kemiskinan picu bencana lumpur Wasior

Kemiskinan picu bencana lumpur Wasior

 

Pada awal tahun 2011, Provinsi Papua Barat termasuk lima provinsi termiskin di Indonesia, namun provinsi Papua Barat memiliki banyak sumber daya alam[1]. Kasus Wasior ini, kemiskinan dianggap sebagai pemicu kerusakan lingkungan. Eksploitasi besar-besaran terhadap sumber daya alam menimbulkan penggundulan hutan. Pemerintah daerah memaksakan penebangan hutan sebagai pemasukan keuangan daerahnya. Penebangan hutan di Wasior sudah terjadi sejak tahun 1990an, pemerintah pun telah mengeluarkan ijin penebangan pada tahun 1990. Penebangan hutan ini tidak serta merta hanya diakibatkan hanya karena kebijakan pemerintah daerah untuk mengeksploitasi hutan, kebiasaan masyarakat Wasior yang masih menggunakan sistem ladang berpindah dengan membuka hutan untuk dijadikan lading sagu sebagai pemenuhan kebutuhan hidup, lahan hutan yang dibuka pun semakin besar seiring pertumbuhan populasi Wasior yang semakin meningkat[2].

Untuk memperkaya daerahnya, eksploitasi tersebut terus menerus dilakukan tanpa mempertimbangkan konservasi lingkungan. Ketika kondisi alam mulai tidak stabil, terjadi hujan besar, masyarakat Wasior terkena imbas dari banjir lumpur besar yang menerobos pemukiman warga. Kerentanan pun terjadi, kondisi Provinsi Papua Barat yang miskin memperburuk kehidupan masyarakat yang terkena bencana. Kini telah satu tahun bencana itu terjadi, Wasior masih belum pulih, pengungsi masih berada di lokasi. Pemerintah daerah masih menunggu bantuan dari pemerintah pusat untuk rekonstruksi hingga tahun 2012. Untuk proses rehabilitasi dan rekonstruksi di Wasior di 2012, pemerintah mengalokasikan Rp 240,7 miliar dengan target penyelesaian 100%. Sementara itu, pada tahun ini, telah ada alokasi Rp 238,3 miliar untuk Wasior dengan target penyelesaian 60%[3]. Hal ini tentunya menambah kerentanan masyarakat Wasior yang terkena bencana dari kelaparan, penyakit,  pendidikan, dan sulit untuk mengembangkan diri.

Wahyu ramdhan wijanarko,1006694271,ilmukesejahteraan sosial, fisip ui

Kapitalisme dan Kemiskinan


Kapitalisme dan Kemiskinan

Kapitalisme adalah sistem sosial yang didasarkan pada pengakuan hak-hak individu[1]. Dalam ranah ekonomi, kapitalisme memisahkan negara dengan perekonomian, seperti halnya ada sekuler yang memisahkan agama dengan negaranya. Dalam ranah politik, kapitalisme mengedepankan kebebasan berpolitik.  Negara yang menganut kapitalisme, Negara merupakan institusi yang harus melindungi Hak Asasi Manusia, namun tetap menegakkan pertahanan dan keamanan. Kapitalisme adalah sistem perekonomian yang menekankan peran kapital (modal), yakni kekayaan dalam segala jenisnya, termasuk barang-barang yang digunakan dalam produksi barang lainnya[2]. Ebenstein (1990) menyebut kapitalisme sebagai sistem sosial yang menyeluruh, lebih dari sekedar sistem perekonomian. Ia mengaitkan perkembangan kapitalisme sebagai bagian dari gerakan individualisme. Sedangkan Hayek (1978) memandang kapitalisme sebagai perwujudan liberalisme dalam ekonomi.

Kemunculan kapitalisme dapat disebabkan oleh beberapa faktor, yakni faktor budaya dan faktor struktural. Teori tentang budaya sebagai faktor yang mendorong munculnya kapitalisme ini dikemukakan oleh Max Weber dalam bukunya The Protestant Ethic and The Spirit of Capitalism. Weber menyatakan bahwa kapitalisme yang ada di Eropa dan di Amerika bersumber pada nilai-nilai Protestan. Weber menjelaskan bahwa dalam ajaran Protestanisme tidak dianjurkan bagi orang-orang beriman untuk melupakan duniawi dan mengasingkan diri dalam gereja atau berkonsentrasi pada kegiatan meditasi atau berdoa serta aktivitas untuk mempersiapkan diri menghadapi kematian seperti yang banyak dilakukan oleh ajaran Katolik.

Kapitalisme sebenarnya telah dimulai saat zaman feodalisme Eropa, dimana perekonomian dimonopoli oleh kaum bangsawan dan tuan tanah. Perkembangan awal kapitalisme dimulai sekitar abad 16, dimana saat itu Eropa sedang giat meningkatkan perbankan komersil. Teori ini berkembang saat revolusi industri di Inggris, modal dan keuntungan dalam setiap transaksi sangat diperhitungkan. Kapitalisme yang dianut dalam revolusi industri merupakan satu revolusi budaya yang bersifat fundamental dalam perkembangan masyarakat Eropa. Kapitalisme berkembang secara cepat, dikarenakan bebas dari tekanan agama maupun negara. Mengejar laba dan kebebasan berpolitik menjadi prioritas utama teori ini, tak pelak Inggris memulai era kolonialisme ke negara-negara benua lainnya. Perkembangan kapitalis pasca revolusi Industri meningkat, seiring berdirinya perusahaan-perusahaan besar di Eropa.

Di kalangan kontra kapitalisme memandang bahwa kapitalisme membawa dampak negatif yang besar, meningkatkan kemiskinan, merusak budaya lokal, membentuk manusia konsumeris, dan menutup akses berkembangnya negara-negara dunia ketiga. Meningkatnya kemiskinan pada negara dunia ketiga menimbulkan banyak pengangguran, terjadinya ketimpangan ekonomi antara orang kaya dengan miskin. Kapitalisme membuat negara miskin semakin miskin karena terbelit utang IMF. Pada akhirnya, kapitalisme membuat negara miskin dan berkembang sulit bersaing dengan negara maju lainnya. Di kalangan kontra kapitalisme, menganggap kapitalisme turut bertanggung jawab atas tidak stabilnya harga uang dunia, ketika ada aksi jual saham di Amerika Serikat, Indonesia pun mengalami gejolak serupa. Hal ini terjadi karena kapitalisme mengangap bahwa capital (modal) menjadi hal yang paling utama, ketika sebuah negara memiliki modal, maka dia mampu berkuasa dan lepas dari jerat kemiskinan.

Industri-industri besar tumbuh

Veteran Kemerdekaan : Diusir dari Asrama, Kini Dibayangi Penggusuran


Veteran Kemerdekaan :

Diusir dari Asrama, Kini Dibayangi Penggusuran

 

Sudah 66 tahun Indonesia mengumandangkan proklamasinya. Ditangan-tangan para pejuang kemerdekaan, negeri ini terbebas dari penjajahan fisik. [1]Ilyas Karim, seorang veteran perang kemerdekaan dan juga saksi pengibaran bendera pusaka saat 17 Agustus 1945, kini hidupnya jauh dari kesejahteraan. Kini ia tinggal dilahan pinjaman, di perkampungan padat pinggiran rel kereta Jabodetabek dikawasan Kalibata. Rumah pinjamannya itu berukuran 10×7 meter bercat biru kusam. Semula ia tinggal di Asrama Siliwangi,yang pada tahun 1982 dirinya diusir tanpa uang pengganti, lokasi tersebut kini berdiri kantor Kemenkeu.

Dirinya kini mengalami kesulitan bergerak,  matanya harus diselotip agar tak terpejam. Hal ini karena dirinya mengalami penyakit stroke, selain itu pula penyakit jantungnya pernah kolaps saat penggusuran 1982 lalu.

Sejak 1996 Ilyas menjabat ketua Pengurus Pusat Yayasan Pejuang Siliwangi Indonesia (Yapsi). Selain dijadikan wadah bagi para mantan pejuang Siliwangi dan keluarga, yayasan ini bergerak di bidang sosial. Di antaranya, memberi santunan dan pengobatan gratis warga tak mampu. Sebagian besar karirnya dihabiskan di Divisi Siliwangi. Beberapa tugas seperti penumpasan DI/TII di Jawa Barat dan Aceh, penumpasan PRRI di Pekanbaru, dan operasi Seroja di Timor Timur. Pengalaman dalam pasukan perdamaian PBB juga beberapa kali dijalaninya. Yaitu di Kongo, Vietnam, dan Lebanon. Pada 1980 Ilyas pensiun dari dinas militer. Continue reading

Pemilihan Raya UI Tak Sekedar Ritual Tahunan

Pemilihan Raya UI Tak Sekedar Ritual Tahunan

Pemira (Pemilihan Raya) kembali bersua, sebuah ajang demokrasi kampus kembali menjadi topik hangat ditiap akhir tahun. Ajang suksesi “elite” kampus ini, bertarung demi mendapat simpati mahasiswa, berlomba untuk menguji visi, berjuang untuk meraih tahta , dan saling beragumen untuk membuktikan dirinya yang pantas menyandang gelar kemenangan. Pemira menjadi estafet kepemimpinan organisasi mahasiswa di kampus perjuangan ini. Pesta demokrasi kampus ditataran mahasiswa ini memang selalu menjadi perbincangan besar terkait isu-isu politiknya, konflik-konfliknya, dan debat-debat visi didalamnya.

Pemira telah bergejolak, seakan melupakan masalah besar dalam kampus ini. Kasus #saveUI ini tak lagi menjadi perbincangan ditataran politik kampus, wacana #SaveHutanUI kini hanya menjadi wacana singkat yang tidak selesai tindak lanjutnya. Pemira menyedot perhatian organisasi-organisasi kampus ini, akhir – akhir ini para bakal calon pasangan ketua BEM dan anggota DPM menampilkan muka-muka mereka dihadapan publik, akhir-akhir ini para anggotanya sibuk mencari tanda tangan untuk meloloskan jagoannya ditahap verifikasi. Continue reading

Employee assistance program

 Employee assistance program

 

Employee assistance program merupakan sebuah program kerja yang berbasis pada kinerja yang mengidentifikasi karyawan yang bermasalah. memotivasi mereka untuk menyelesaikan masalahnya, dan menyediakan akses untuk konseling atau pengobatan bagi karyawan yang membutuhkan. Employee assistance program mulai dikenal pada tahun 1917 Macy, New York City department store, membuka kantor khusus ditujukan untuk membantu menangani karyawan dengan masalah pribadi. Tapi pada Metropolitan Life Insurance Company dan Western Electric yang juga pelopor di lapangan, tapi tidak sampai tahun-tahun setelah Perang Dunia II usai, EAP menjadi relatif umum. Continue reading

(Resume) ETIKA PEMBANGUNAN


(Resume) ETIKA PEMBANGUNAN

 

Pembangunan telah lama disamakan dengan modernisasi dan westernisasi dan dipelajari perubahannya seiring dengan masalah ekonomi. Disiplin ilmu ekonomi telah menjadi sumber utama kebijakan untuk membuat keputusan pembangunan. Pandangan ini sekarang banyak dikritik sebagai etnosentris dan secara ekonomis reduksionis. Perubahan yang terjadi dalam ekonomi itu sendiri adalah mengintegrasikan etika ke dalam, metodologinya analisis konseptualisasi, dan, sebuah pembuatan paradigma baru dalam pembangunan, dan sebuah disiplin baru, etika pembangunan, telah datang dan menjadi ada. Disiplin baru muncul dari dua sumber, dari keterlibatan dalam aksi pembangunan untuk perumusan teori etika, dan dari kritik terhadap teori etika mainstream dari strategi normative untuk memandu praktek pembangunan. Etika pembangunan  memiliki misi ganda: untuk membuat ekonomi lebih manusiawi dan tetap berpengharapan dalam menghadapi ketidakmungkinan tampak mencapai pembangunan manusia bagi semua. Continue reading

Penentuan Desa Miskin

 

Penentuan Desa Miskin

            Konsep mengenai kemiskinan bukanlah hal yang mudah dipahami, sebab kemiskinan sebagai gejala ekonomi berbeda dengan kemiskinan sebagai gejala sosial-budaya. Hendra Esmara (1986 : 287) menyebutkan bahwa kemiskinan dilihat dari aspek sosial-budaya lebih banyak melihat dalam diri penduduk miskin itu sendiri seperti Nampak pada cara hidup dan tingkah laku. Kemudian kemiskinan dilihat dari aspek ekonomi lebih menitikberatkan pada lingkungan penduduk miskin yang Nampak pada rendahnya pendapatan, gizi buruk, angka kematian bayi dan morbiditas yang tinggi serta rendahnya pendidikan.

Terdapat tiga aspek yang digunakan dalam penentuan wilayah desa miskin, yaitu potensi dan fasilitas desa, perumahan dan lingkungan, serta keadaan penduduk. Aspek potensi dan fasilitas desa diasumsikan dapat menunjukkan status keberadaan dan pemanfaatan potensi yang ada, desa yang bersangkutan diasumsikan tidak miskin. Aspek perumahan dan lingkungan diasumsikan pula dapat mencerminkan derajat kehidupan penduduk. Semakin baik fasilitas perumahan dan lingkunganyang ada di desa tersebut, semakin baik pula tingkat kehidupan penduduknya. Aspek kependudukan diasumsikan dapat mencerminkan keadaan kesejahteraan penduduk dari desa yang ditempati. Penduduk miskin pada umumnya tinggal pada perumahan dan lingkungan kumuh, kurang ditunjang oleh fasilitas kesehatan dan kualitas sumber daya manusia yang pada umumnya rendah. Continue reading

Busung Lapar, Potret Buram Gizi Masyarakat

 

Pembahasan :

Busung Lapar, Potret Buram Gizi Masyarakat

            Dalam beberapa tahun terakhir,media massa banyakmenyoroti kasus gizi buruk dan busung lapar di beberapa daerah di Indonesia. Tak banyakpara pejabat yang menyangkal data statistik yang diberikan oleh media massa. Busung lapar yang terjadi sekarang merupakan efek dari krisis ekonomi di negara kita yang berkepanjangan yang menyebabkan ketidakmampuan masyarakat untuk membeli bahan makanan yang baik dari segi jumlah dan mutu. Selain itu kurangnya pengetahuan masyarakat tentang makanan yang bergizi merupakan penyebab lain timbulnya busung lapar.  Paling banyak yang terkena busung lapar adalah anak-anak. Dalam buku Busung Lapar[1] diartikan sebagai penyakit busung yang disebabkan kekurangan gizi.dengan kata lain, Busung lapar yang dalam bahasa Belanda disebut honger oedem (HO) itu antara lain dapat terjadi karena masalah ekonomi orang tua yang terimpit kemiskinan[2]. Anak menderita sakit yang tak sembuh-sembuh sehingga susah makan. Sanitasi lingkungan yang buruk dan pemahaman warga terhadap kesehatan kurang. Selain itu, bisa juga disebabkan oleh pola konsumsi yang tidak memperhatikan keseimbangan gizi. Hal itu dapat menimpa siapa saja, tidak mengenal status ekonomi. Anak orang yang berkecukupan pun bila tidak diperhatikan keseimbangan gizinya dapat terkena gizi buruk. Tentang kasus busung lapar di NTB, meskipun surplus padi, sebagian besar penduduknya bekerja sebagai buruh tani. Continue reading

Pengelompokan sosial baru pada masa remaja


Pengelompokan sosial baru pada masa remaja

 

Remaja merupakan masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa. Lazimnya masa remaja dianggap mulai pada saat anak secara seksual menjadi matang dan berakhir saat ia mencapai usia matang. Menurut Santrock (2007), remaja diartikan sebagai masa perkembangan transisi antara masa anak dan masa dewasa yang mencakup perubahan biologis, kognitif, dan sosial-emosional.

Tahapan remaja menurut Hurlock, remaja dimulai dari tahap pubertas = 12 – 14 tahun, tahap remaja awal = 14-17 tahun. Tahap remaja akhir = 17-21 tahun. Pada masa persiapan fisik, yang paling menyolok pada diri remaja adalah perubahan fisik yang sedang dialaminya. Pada saat remaja memasuki masa persiapan diri, pada umumnya kematangan tubuh dan kedewasaan seksual sudah tercapai. Pada masa ini ia sedang menyiapkan diri menuju pembentukan pribadi yang dewasa. Pada masa persiapan dewasa, remaja diharapkan sudah mencapai status kedewasaan dalam lingkungan keluarga. Pada masa ini ia harus menyiapkan masa depan, peran dan penempatan dirinya dalam masyarakat. Continue reading

Aplikasi Keterampilan Pekerja Sosial dalam Manajemen Sumber Daya Manusia (Philip A. Berry)

Aplikasi Keterampilan Pekerja Sosial dalam

Manajemen Sumber Daya Manusia (Philip A. Berry)

 

Pekerja di berbagai bidang dilanda banyak masalah yang terkadang mengganggu efektivitas dirinya dan produktivitas secara keseluruhan. Keterampilan dan pengetahuan yang dimiliki para pekerja sosial diharapkan dapat diterapkan dalam pengaturan nontradisional dengan cara baru untuk meningkatkan produktivitas karyawan dan efektivitas organisasi.  keterampilan kerja sosial dapat meningkatkan metode manajemen sumber daya manusia yang berlaku untuk masalah saat ini di tempat kerja. Ini akan memeriksa keterampilan yang digunakan oleh pekerja sosial dan keterampilan-keterampilan unik sesuai dengan pendekatan yang digunakan dalam manajemen sumber daya manusia.

Continue reading

Masa Pubertas


Masa Pubertas

 

Lulus SD, sepertinya itu adalah babak baru pubertas. Diusia tersebut terlihat banyak kondisi psikologis yang berubah dari SD ke SMP. Saat di SMP sepertinya saya rentan terhadap pendapat orang lain, ketika teman-teman lain mengendarai sepeda ke sekolah, saya pun akhirnya mengikutinya, mencari teman buat jalan bareng ke SMP. Senang bergerombol, jalan bareng sama teman-teman sepertinya menjadi suasana yang biasa untuk anak-anak kelas 1 SMP. Mood mudah berubah ubah, saat itu sedang zaman-zamannya manggil nama dengan nama orang tua, karena kesal nama orang tua diejek-ejek kontan saya langsung berantem di kelas, baju sobek, bangku patah.mungkin hal itu terjadi karena saya merasa lebih hebat setelah latihan rutin pencak silat. Dan itu pun terjadi 3 kali saat kelas 1 SMP dengan teman kelas yang lain dan dengan masalah yang sepelelainnya. Namun tak sampai 1 jam, kita sudah tidak marahan lagi, tertawa bersama kembali.di tahun pertama SMP, kegiatan saya cukup banyak diluar rumah, aktif di PRAMUKA, senang dengan camping dan lintas alam, serta punya kebangga tersendiri ketika dapat menonjol diantara anggota pramuka lainnya. Continue reading

Lumpen Proletar


Lumpen Proletar

Ketika kita mendengar kata masalah sosial, hal yang terngiang dipikiran kita adalah Pencuri, pelacur, pengamen, penjudi, pencuri, dan pejudi, ataupun tentang tindakan anarkisme. Masalah merupakan suatu hambatan yang kita hadapi, jika suatu masalah tidak hanya mengancam atau meresahkan individu dan keluarga, melainkan lebih luas lagi menyangkut jumlah keluarga – keluarga yang lebih banyak, C.Weight Mills menyebutnya sebagai keresahan umum.[1] Pencuri, pelacur, pengamen, penjudi, pencuri, dan pejudi dianggap sebagai Lumpen Proletar. Lumpen Proletar merupakan golongan yang disisihkan dan dihiraukan oleh Marx dalam sebagian besar tulisannya. Dalam buku Komunis Manifesto, Ide borjuis-proletar terangkum pada bab pertama manifesto ini. Marx merasa bahwa sejarah dunia ini dibangun diatas perjuangan kelas Proletar atas penghisapan kelas Borjuis. Kemudian, Marx merumuskan bahwa kelas Proletar adalah para pekerja dalam bidang industri dan kelas Borjuis adalah para pemilik modal dari industri-industri tersebut. Sedangkan, petani termasuk dalam sebuah kelas yang disebut Marx sebagai lumpen-proletar. Continue reading

Patriarki dan Pekerja Kesejahteraan Sosial

Patriarki dan Pekerja Kesejahteraan Sosial

Sistem Usaha Kesejahteraan Sosial

Wahyu Ramdhan Wijanarko, 1006694271


Resume : Bab 10, buku Human service an complex organization

 

Pekerja Kesejahteraan Sosial adalah Pekerjaan Perempuan

 

Perempuan yang mendominasi pekerja kesejahteraan sosial  didasari oleh ideologi patriarki. Khususnya, ideologi ini melihat perempuan sebagai pengasuh dan laki – laki member  nafkah  pada keluarga. Dimana menolong orang dengan norma yang merupakan ekspektasi dari tugas perempuan selaku pengasuh dan fungsi ekspresif ini merupakan dasar dari gender sosial dalam pembagian peran. Contoh lainnya, pekerja kesejahteraan sosial tidak proporsional merepresentastifkan perempuan di kesejahteraan sosial. Anggota organisasi pekerja kesejahteraan sosial melihat bagaimana kemampuan perempuan mengasuh dalam segi domestik maupun diluar keluarganya.

Ideologi Patriarki ini telah mengakar dan menjadi budaya pada kehidupan manusia.  Bahkan ada pula yang mengatakan bahwa budaya patriarki ini tidak dapat di hapuskan dan akan terus ada hingga masa yang akan datang. Oleh sebab itu, ‘posisi’ perempuan yang seakan-akan selalu berada di bawah laki-laki akan selalu ada didalam tatanan kehidupan manusia dan hal ini sudah dirasakan sebagai sesuatu yang lumrah. Namun, tidak menutup kemungkinan didalam suatu kondisi atau situasi,  perempuan menjadi seseorang yang mengontrol dan mengendalikan kehidupan sehari-hari (misalnya seorang ibu yang lebih dominan ada di rumah). Continue reading

Kesejahteraan Sosial dan Pekerjaan Sosial

Kesejahteraan Sosial dan Pekerjaan Sosial

Pengantar Psikologi bagi Kesejahteraan Sosial

Wahyu Ramdhan Wijanarko, NPM. 1006694271


Banyak sekali permasalahan sosial yang terdapat di dunia saat ini, sebagai contohnya tingginya angka kemiskinan, menurut survey CARE angka kemiskinan penduduk dunia mencapai 1,37 miliar penduduk, sedangkan menurut BPS, jumlah penduduk miskin di Indonesia mencapai 30 juta penduduk. Sungguh hal yang mirip jika kita melihat total kekayaan Bill Gates ataupun Husni Mubarak yang jumlahnya ratusan triliun rupiah. Permasalahan sosial lainnya antara lain jaminan kesehatan yang kurang memadai, pengangguran dan yang lainnya. Permasalahan sosial ini dikaji dalam ilmu kesejahteraan sosial.

Dalam perkembangannya ilmu kesejahteraan sosial sangat erat kaitannya dengan pekerjaan sosial, terutama dalam segi historisnya. Sejarah kesejahteraan sosial yang ditulis dalam buku Introduction to Social Work & Social Welfare (Kirst-Ashman 2007, 146) dijelaskan bahwa hukum tentang kesejahteraan sosial modern pertama kali dibuat di Inggris dikenal dengan nama Elizabethan Poor Law tahun 1601. Isi hukum tersebut merupakan pembagian kelompok penerima bantuan, antara lain : Continue reading