Busung Lapar, Potret Buram Gizi Masyarakat

 

Pembahasan :

Busung Lapar, Potret Buram Gizi Masyarakat

            Dalam beberapa tahun terakhir,media massa banyakmenyoroti kasus gizi buruk dan busung lapar di beberapa daerah di Indonesia. Tak banyakpara pejabat yang menyangkal data statistik yang diberikan oleh media massa. Busung lapar yang terjadi sekarang merupakan efek dari krisis ekonomi di negara kita yang berkepanjangan yang menyebabkan ketidakmampuan masyarakat untuk membeli bahan makanan yang baik dari segi jumlah dan mutu. Selain itu kurangnya pengetahuan masyarakat tentang makanan yang bergizi merupakan penyebab lain timbulnya busung lapar.  Paling banyak yang terkena busung lapar adalah anak-anak. Dalam buku Busung Lapar[1] diartikan sebagai penyakit busung yang disebabkan kekurangan gizi.dengan kata lain, Busung lapar yang dalam bahasa Belanda disebut honger oedem (HO) itu antara lain dapat terjadi karena masalah ekonomi orang tua yang terimpit kemiskinan[2]. Anak menderita sakit yang tak sembuh-sembuh sehingga susah makan. Sanitasi lingkungan yang buruk dan pemahaman warga terhadap kesehatan kurang. Selain itu, bisa juga disebabkan oleh pola konsumsi yang tidak memperhatikan keseimbangan gizi. Hal itu dapat menimpa siapa saja, tidak mengenal status ekonomi. Anak orang yang berkecukupan pun bila tidak diperhatikan keseimbangan gizinya dapat terkena gizi buruk. Tentang kasus busung lapar di NTB, meskipun surplus padi, sebagian besar penduduknya bekerja sebagai buruh tani. Continue reading

MASALAH SOSIAL dalam prespektif Sistem Usaha Kesejahteraan Sosial

MASALAH SOSIAL

Sistem Usaha Kesejahteraan Sosial

Wahyu Ramdhan Wijanarko, NPM.1006694271

Ketika kita mendengar kata masalah sosial, hal yang terngiang dipikiran kita adalah kemiskinan, waria, anak jalanan, ataupun tentang tindakan anarkisme.  (Tangdilintin 2003) Masalah merupakan suatu hambatan yang kita hadapi, jika suatu masalah tidak hanya mengancam atau meresahkan individu dan keluarga, melainkan lebih luas lagi menyangkut jumlah keluarga – keluarga yang lebih banyak, C.Weight Mills menyebutnya sebagai keresahan umum. Menurut Mills (1959) suatu masalah dapat digolongkan sebagai keresahan umum jika masalah itu telah berpengaruh secara luas dan menjadi perdebatan umum.

Perbedaan antara masalah personal dengan keresahan umum menurut Mills memperlihatkan dimensi yang menjadi ciri khas masalah sosial yang dapat membedakannya dengan masalah personal. Paling tidak ada 3 dimensi yang dapat dilihat dari penjelasan itu yang member ciri sosial kepada suatu masalah sehingga memenuhi kriteria sosial. Continue reading

Kesejahteraan Sosial dan Pekerjaan Sosial

Kesejahteraan Sosial dan Pekerjaan Sosial

Pengantar Psikologi bagi Kesejahteraan Sosial

Wahyu Ramdhan Wijanarko, NPM. 1006694271


Banyak sekali permasalahan sosial yang terdapat di dunia saat ini, sebagai contohnya tingginya angka kemiskinan, menurut survey CARE angka kemiskinan penduduk dunia mencapai 1,37 miliar penduduk, sedangkan menurut BPS, jumlah penduduk miskin di Indonesia mencapai 30 juta penduduk. Sungguh hal yang mirip jika kita melihat total kekayaan Bill Gates ataupun Husni Mubarak yang jumlahnya ratusan triliun rupiah. Permasalahan sosial lainnya antara lain jaminan kesehatan yang kurang memadai, pengangguran dan yang lainnya. Permasalahan sosial ini dikaji dalam ilmu kesejahteraan sosial.

Dalam perkembangannya ilmu kesejahteraan sosial sangat erat kaitannya dengan pekerjaan sosial, terutama dalam segi historisnya. Sejarah kesejahteraan sosial yang ditulis dalam buku Introduction to Social Work & Social Welfare (Kirst-Ashman 2007, 146) dijelaskan bahwa hukum tentang kesejahteraan sosial modern pertama kali dibuat di Inggris dikenal dengan nama Elizabethan Poor Law tahun 1601. Isi hukum tersebut merupakan pembagian kelompok penerima bantuan, antara lain : Continue reading